saya dan Lulu adalah dua backapcker gila yang ingin keliling indonesia untuk melihat keindahan alamnya serta keunikan kebudayaanya, dengan perjalanan yang murah, menyenangkan dan kami membagikan lewat blog dan video. semua itu dapat ditemukan di YULUTRIP Indonesia. ikuti cerita seru kami terus ya dan jangan lupa mampir ke blog kami ya di sini.

Friday, 10 May 2013

Linguistik Historis Komparatif adalah


Linguistik Historis Komparatif
(Mata kuliah Teori Linguistik Terapan)




Disusun oleh :
Dian syahreza 180710090010
Yuliawati Amanah 180710090033






Universitas Padjadjaran
Fakultas ilmu Budaya
Program Studi Sastra Rusia
Jatinangor
2013





Abstrak
Linguistik historis komparatif adalah salah satu cabang ilmu linguistik yang membandingkan bahasa-bahasa yang serumpun serta mempelajari perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain dan mengamati bagaimana bahasa-bahasa mengalami perubahan serta mencari tahu sebab akibat perubahan bahasa tersebut. Sejarah perkembangan linguistik historis komparatif berlangsung selama empat periode.
Di dalam Linguistik komparatif untuk menentukan hubungan kekerabatan bahasa yaitu dengan menggunakan 3 metode yaitu metode kuantitatif dengan teknik leksikostatistik dan teknik grotokronologi, metode kualitatif dengan teknik rekonstruksi dan metode sosiolinguistik. Metode kualitatif dengan teknik grotokronologi digunakan untuk menentukan waktu pisah antara bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa awal.
Tujaun linguistik historis komparatif yaitu:
1.      Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan membandingkan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang-bidang yang digunakan untuk membandingkannya adalah fonologi dan morfologi.
2.      Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada pada saat ini. Pada bahasa purba atau berusaha menunjukkan bahasa proto yang melahirkan bahasa modern.
3.      Mengadakan pengelompokkan bahasa yang termasuk bahasa serumpun.
Dalam hal ini contoh kajian linguistik historis komparatif adalah bahasa Sunda dan bahasa Betawi dan hasilnya ada beberapa kata yang memiliki makna serta bentuk yang sama yaitu Tuman, dan ada beberapa kata yang maknanya sama tetapi bentuk yang sedikit berbeda yaitu Asap dan Belah.
Hal tersebut menunjukkan bahasa Betawi dan bahasa sunda memiliki hubungan kekerabatan dari bahasa serumpun karena bahasa Sunda dan bahasa Betawi merupakan masuk ruang lingkup bahasa Austronesia.

Isi
Pengertian Linguistik Historis Komparatif
            Linguistik historis komparatif adalah salah satu cabang ilmu linguistik yang membandingkan bahasa-bahasa yang serumpun serta mempelajari perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain dan mengamati bagaimana bahasa-bahasa mengalami perubahan serta mencari tahu sebab akibat perubahan bahasa tersebut. Perkembangan bahasa mengakibatkan adanya perubahan, perubahan itu ada dua yaitu perubahan external history dan internal history.
            Internal history yaitu perkembangan atau perubahan bahasa yang terjadi dalam sejarah bahasa tersebut, perubahan itu mencakup kosa kata, struktur kalimat dan lain-lain. Sedangkan, Eksternal history yaitu perkembangan atau perubahan bahasa yang terjadi di luar sejarah bahasa tersebut, perubahan itu mencakup sosial, budaya, politik, geografis dan lain-lain.
Pengertian LHK menurut beberapa ahli
            Alwasilah (dalam Suhardi, 2013:17) menjelaskan pengertian linguistik komparatif sebagai kajian atau studi bahasa yang meliputi perbandingan bahasa-bahasa serumpun atau perkembangan sejarah suatu bahasa.
            Menurut Robins (1975) Linguistik Komparatif termasuk dalam bidang kajian linguistik memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan sumbangan berharga bagi pemahaman tentang hakekat kerja bahasa dan perkembangan (perubahan ) bahasa-bahasa di dunia.
Menurut keraf (1948:22) mengatakan Linguistik bandingan historis (Linguistik Historis Komparatif) adalah suatu cabang ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan – perubahan unsur bahasa yang erjadi dalam bidang wakru tersebut.
Menurut Verhaar (dalam Suhardi, 2013:25), kajian linguistik historis-komparatif dapat dikelompokkan menjadi:
  1. Kajian linguistik sinkronis
  2. Kajian linguistik diakronis
Sejarah Linguistik historis komparatif dan tokoh-tokohnya.
            Sejarah perkembangan linguistik historis komparatif berlangsung selama empat periode yaitu:
Periode pertama dimulai pada tahun 1830-1860, bermula dari seorang tokoh yang meletakan dasar-dasar ilmu perbandingan bahasa berkebangsaan Jerman Franz Boop yakni meneliti asal mula akhiran kata kerja yang menurut pendapatnya semua akhiran bentuk kata kerja berasal dari bagian-bagian yang tadinya terlepas dari pokok kata sedangkan bagian yang selalu ada ialah perkataan sein. Boop membandingkan akhiran-akhiran dari kata kerja dalam bahasa Sanskerta, Yunani, Latin, Persia, dan German (terbit tahun 1816)
              Dalam usaha menemukan bentuk asal, Boop menggunakan trias-teori yang menyatakan bahwa tiap kalimat sebenarnya terdiri dari tiga bagian, yakni: subjek, predikat, dan kopula. Tentang hal bunyi Boop terpengaruh oleh Grimm dengan menyatakan bahawa bahasa primitif hanya mempunyai tiga jenis bunyi, yakni /a, i, u/. perubahan bunyi disebabkan oleh sesuatu yang mekanis dan ia sendiri mengira bahwa perubahan itu bergantung pada “beratnya” akhiran.
Sehubungan dengan klasifikasi bahasa Boop membagi bahasa atas tiga jenis:
a. Bahasa-bahasa tanpa akar dan tanpa tenaga pembentuk, jadi tidak memiliki organisme tata bahasa, misalnya bahasa Tionghoa.
b. Bahasa-bahasa dengan akar kata yang terdiri dari satu suku kata, mempunyai organisme tata bahasa.
c. Bahasa-bahasa dengan akar kata terdiri dari dua suku kata dan konsonan mutlak.
Tahun 1818 Ramus Kristian Rusk, terbit bukunya yang berjudul Undersogelse om det gamle nordiske eller is landske Sprongs Oprindelse (= penyelidikan tentang asal mula bahasa Nur kuno atau Islandia). Melakukan penelitian kata-kata dalam bahasa German mengandung unsur-unsur bunyi yang teratur hubungannya dengan kata-kata bahasa Indo Eropa lainnya. Perbandingan bahasa German  Utara dengan bahasa Baltik, Slavia dengan Keltik,  serta dimasukkan bahasa Baskia dan Finno-Ugris. Pendapat Rask yang sangat penting adalah pergeseran bunyi-bunyi di dalam bahasa-bahasa Jerman yang kemudian dikonkretkan oleh J. Grimm sehingga dapat dikatakan bahwa Grimm adalah penerusnya. Rask berpendapat bahwa kalau ada persamaan antar dua bahasa, maka hal itu disebabkan oleh kekeluargaan bahasa tersebut.
Pada tahun 1819 Jacob Grimms dalam karangannya Deutsche Grammatika merupakan permulaan studi linguistik German dari Jerman. Dari dialah berasal klasifikasi dalam bentuk kata kerja lemah dan kata kerja kuat bahasa Jerman, pengertian Ablaut dan Umlaut. Dalam bukunya yang kedua dikenal dengan hukum Grimm. Hukum ini membahas mengenai Lautverschiebung. Hukum ini sangat penting dalam bidang bahasa. Tahun 1822 Deutsche Grammatik terbit untuk kedua kalinya. Grimm membuat teori berdasarkan pikiran Rasmus Rask, mengenai Lautverschiebung., yaitu:
1) Jika bahasa Gothik mempunyai f, maka bahasa Indo-Eropa lainnya mempunyai bunyi p; sebuah bunyi p akan menjadi b dalam bahas lainnya; sebuah bunyi th akan menjadi t dan bunyi t akan menjadi d dan sebagainya.
2) Grimm menggambarkan Lautverschiebung dari bunyi beraspirata bahasa Indo-Eropa menjadi tak beraspirata dan menjadi bunyi bersuara menjadi tak bersuara, bh, dh, gh menjadi b, d, g, dan b,d, g menjadi p, t, k.
Tahun 1808 Friedrich von Schlegel menerbitkan buku berjudul Uber die Sprache und Weisheit der Inder. Dalam karangannya ia menekankan studi perbandingan “struktur dalam” bahasa (bidang morfologi) untuk menjelaskan hubungan genetik bahasa. Beliaulah yang memperkenalkan tata bahasa perbandingan/ Vergleichende Grammatik. Yang diperbandingkan adalah bentuk infleksi dan derivasi dari bahasa Sanskrit, Yunani, Latin, Indo-Eropa lainnya. Dari hasil perbandingan ternyata persamaan itu bukan berasal dari peminjaman, melainkan karena persamaan asal, yang menurut pendapatnya bahawa bahasa Sansekerta lebih tua jika dibandingkan bahasa lain.
Menurut Friedrich von Schlegel ada dua kelompok bahasa yakni:
a. Bahasa yang bermacam-macam makna yang ditentukan oleh perubahan bunyi dalam root (= bahasa fleksi)
b. Bahasa yang bermacam-macam makna disebabkan oleh afiks (bhs. Afiks)
Berdasarkan pengelompokan ini F. von Schalegel membuat klasifikasi bahasa atas: bahasa fleksi, bahasa afiks, bahasa Tionghoa (bahasa yang partikelnya membentuk makna baru).
Dalam pertumbuhannya, bahasa mulai dari bahasa Tionghoa, lalu menjadi bahasa afiks, dan terakhir menjadi bahasa fleksi. Pendapat ini diambil alih oleh saudaranya, A. W. Schlegel (1767-1845) dan membuat klasifikasi bahasa menjadi:
a. Bahasa tanpa struktur tata bahasa
b. Bahasa yang menggunakan afiks
c. Bahasa yang berfleksi
Bahasa fleksi dibaginya lagi menjadi
a. Bahasa sintetis
b. Bahasa analitis
Bahasa sintetis tak dapat diteliti lagi asal mulanya sedangkan bahasa analitis tercipta pada zaman sejarah.
F.Pott (1802-1887) Menyelidiki etimologi kata-kata dengan metode yang lebih baik dan objek penyelidikannya dari bahasa-bahasa Indo German. Wilhelm von Humboldt (1767-1835)
Humboldt adalah penegak pertama linguistik umum. Beliau adalah ahli tata Negara, filologi klasik, filsafat dan belletri (sastra indah). Dari tahun 1802-1819 Humboldt menjadi diplomat Prusia anatara lain menjadi duta di Roma, menteri agama di Berlin, bahkan menjadi utusan ke Kongres Wina.
Pandangannya tentang bahasa dapat di baca pada bukunya yang berujudl Ueber die Kawisprache auf der Insel Java.
Pandangannya bersifat historis dan filosofis. Beliau beranggapan bahwa bahasa tidaklah terjadi karena sangat dibutuhkan. Berbahasa merupakan keinginan batin manusia karena manusia adalah makhluk bernyanyi yang menghubungkan pikiran dengan bunyi.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa: “Tiap perbuatan menimbulkan kesan”. Tiap kesan menjadi objek pemikiran. Tiap objek pemikiran menjadi objek pernyataan. Untuk tiap objek pernyataan harus dicarikan cara menyatakan yakni dengan bahasa. Tiap bentuk pernyataan (= bahasa) kembali kea lam pikiran. Jadi, bahasa bukanlah pekerjaan (= ergon) melainkan kegiatan (= energia). Bahasa merupakan pekerjaan jiwa yang selalu diulang untuk menggunakan bunyi-bunyi yang berartikulasi guna menyatakan pikiran.
              Bahasa itu sendiri berwujud dua, yakni bentuk, form atau aussere lautform atau artikulierte laut, dan makna, meaning atau innere form= bentuk batin. tentang innere form (bentuk batin), Humboldt membedakan dua substansi, yakni das Bestandige dan das Gleichformig. Keduanya terletak dalam jiwa manusia. Das Bestandige adalah dorongan jiwa yang didalamnya ada bagian-bagian yang saling berhubungan dan berimbang. Untuk itu ia berpendapat bahwa setiap bahasa mempunyai sistem dan karena itu tak ada bahasa yang primitif dan tak ada bahasa yang istimewa.
              Humboldt membuat juga klasifikasi bahasa yang didasarkannya pada lautfrom. Untuk itu dia membagi bahasa atas empat jenis:
a. Bahasa monosilabel, bahasa yang hanya terdiri dari root dan tak mengalami perubahan bentuk.
b. Bahasa aglutinasi (inggris, agglutinate= meletakan, merekatkan, menjadi satu, gluten= perekat), bahas temple-menempel. Perubahan bentuk diperoleh dari melekatkan afiks.
c. Bahasa fleksi, bahasa yang mengenal konyugasi, kasus.
d. Bahasa inkorporsai (Inggris, In corporate= memasukan ke dalam). Sifat bahasa ini yakni patient dimasukkan kedalam bentuk kata kerja.
Periode kedua terjadi dalam kurun waktu 1861 hingga 1880, August Schleicher bermula dari Beliau adalah ahli linguistik. Meskipun bahasa yang betul-betul dikenalnya adalah bahasa Slavia dan Lithaunia (= salah satu bahasa Baltis), mempelajari bahasa Ceko dan dapat berbicara dalam bahasa Rusia.
Schleicher berpendapat bahwa pertumbuhan bahasa bersifat historis, tetapi pertumbuhan itu didapati dalam alam dengan bentuk yang semurni-murninya. Pentingnya Schleicher bagi kemajuan linguistik terletak dalam dua hal yakni:
a. Memulai dengan rekonstruksi bentukan asli bahasa Indo-Jerman dengan jalan membanding-bandingkan dengan bahasa lain yang dikenalnya,
b. Menentukan asal mula timbulnya bahasa-bahasa Indo-Jerman. Dianngapnya bahawa bahasa Indo-Jerman asal itu tinggal di Asia Tengah yang kemudian berubah karena perceraian bangsa. Indo-Jerman, Utara, Selatan Slavia, Asia Jerman Bahis, Iran Sanskerta
              Schleicher menyebut dirinya seorang Glottiker dan dengan menerapkan konsepsi Botani dalam linguistic, ia mengemukakan Stammbaumtheorie (= teori pohon). Jadi, ada bahasa induk yang dinamainya Grundsprahe dan dari bahasa induk dapat ditelusuri bahasa purba atau yang disebutnya Ursprache. Berdasarkan klasifikasinya bahasa dibagi atas tiga jenis, yakni :
a) Bahasa isolasi (misalnya tionghoa)
b) Bahasa aglutinasi inklusif bahasa inkorporasi
c) Bahasa fleksi
G. Curtius (1820-1885) Menerapkan metode perbandingan untuk Filologi Klasik , khususnya mempelajari bahasa Yunani .  Max Muller dan D.Whitney (1827-1894) Muller menghubungkan kelas-kelas bahasa dengan tipe-tipe sosial; bahasa isolatif (bahasa keluarga); bahasa aglutinatif (bahasa pengembara); bahasa fleksi  (bahasa masyarakat yang sudah mengenal negara). Sedangkan, Whitney menambahkan istilah polisintesis untuk menyebutkan bahasa inkorporatif.
Periode ketiga berlangsung dari tahun 1889 sampai akhir abad ke-19 yaitu muncul airan yang bernama junggrammatiker yang mengandung hukum Grimm. Aliran ini bergerak di Leipzig, salah satu muridnya adalah Leonard Bloomfil yang menjadi linguis strukturalis Amerika. Menjadikan linguistik historis komparatif sebagai sebuah ilmu yang eksak dalam metode-metodenya. Tokoh yang terpenting Karl Brugmann, H. Osthoff, dan A. Leskien.  Selain itu J. Schmidt mencetuskan sebuah teori batu yang disebut wallentheori. Ia kemudian melahirkan hukum verner dan pada tahun 1880 Hermann Paul mengeluarkan buku prinzipen der sprachgescichte (1880). Ahli lainnya H. Steinthal mencoba membagi bahasa dengan landasan psikologi dan Fr. Muller menerbikan bukunya grundriss der sprachwissenchaft (1876-1888).
Periode keempat lahir pada abad ke-20 ketika fonetik berkembang menjadi studi ilmiah dan lahirnya cabang linguistik yaitu psikolinguistik dan sosiolinguistik. Muncul pula aliran praha sebagai reaksi terhadap studi bahasa individual atau idiolek.
Pembahasan Linguistik Historis Komparatif
            Linguistik historis komparatif merupakan bidang kajian linguistik yang memiliki peranan sangat besar dalam memberikan kontribusi yang berharga dalam bagi pemahaman, cara kerja dan perkembangan bahasa-bahasa di dunia. Tugas utama dari linguistik historis komparatif ini adalah menganalisis dan memberikan penjelasan mengenai hakikat perubahan suatu bahasa. Pada umumnya hakikat suatu bahasa memiliki struktur bahasa(dimensi sinkronis) dan selalu mengalami perubahan bahasa (dimensi diakronis).
            Linguistik sinkronis adalah mempelajari bahasa berdasarkan gejala-gejala bahasa yang bersifat sezaman yang diujarkan oleh pembicara juga mempelajari bahasa-bahasa pada masa tertentu mempunyai struktur-struktur atau unsur-unsur bahasa yang disebut unsur fonologi, morfologi, sintaksis dan lain-lain. Linguistik diakronis disebut juga sebagai pendekatan historis (komparatif) karena kecenderungan kajiannya yang berpusat pada analisis perbandingan (komparatif) bahasa-bahasa sepanjang waktu (historis).
Tujuan mempelajari bahasa secara diakronis adalah untuk mengetahui sejarah struktural bahasa itu beserta dengan segala bentuk perubahan dan perkembangannya. Hasil kajian diakronis sering kali diperlukan untuk menerangjelaskan deskripsi studi sinkronik (Chaer, 2007).
Dalam mempelajari bahasa diakronis, kita dapat menggunakan metode kuantitatif untuk menganalisis bahasa juga dari segi dimensi sinkronis, namun juga dapat digunakan dalam kajian linguistik tipology dan linguistik kontrasif . linguistik tipology dengan metode komparatif digunakan untuk mengkaji bahasa secara struktural berdasarkan dimensi sinkronis. Tujuannya untuk mengamati persamaan dan perbedaan tipe bahasa-bahasa di dunia berdasarkan kajian struktural berbagai tataran kebahasaan secara sinkronis. Sedangkan linguistik kontrasif dengan metode komparatif bertujuan untuk membandingkan bahasa-bahasa berdasarkan kajian struktur berbagai tataran kebahasaan secara sinkronis untuk tujuan didaktis tertentu dalam rangka mencapai keberhasilan pengajaran bahasa.
Di dalam Linguistik komparatif untuk menentukan hubungan kekerabatan bahasa yaitu dengan menggunakan 3 metode yaitu metode kuantitatif dengan teknik leksikostatistik dan teknik grotokronologi, metode kualitatif dengan teknik rekonstruksi dan metode sosiolinguistik. Metode kualitatif dengan teknik grotokronologi digunakan untuk menentukan waktu pisah antara bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa awal.
Metode yang digunakan dalam Linguistik Historis komparatif.­­
            Metode kuantitatif pendekatan yang menggunakan cara kerja perhitungan statistik. Pendekatan ini dikenalkan oleh linguis Amerika yang bernama Morris Swadesh pada akhir tahun 1940-an. Pendekatan ini dibedakan dalam dua teknik:
  1. Leksikostatistik
  2. Glotokronologi
Teknik Leksikostatistik adalah teknik pengelompokkan bahasa yang cenderungmengutamakan penoropongan pada kata-kata (kelsikon) secara statistik, kemudian berusaha menetapkan pengelompokkan itu berdasarkan presentase kesamaan dan perbedaan satu bahasa dengan bahasa yang lain. Metode ini bertujuan untuk menentukan tingkat kekerabatan dua bahasa atau lebih, apakah bahasa tersebut memiliki kekerabatan atau apakah bahasa tersebut sekelopok dialek dari suatu bahasa. Adapun rumusnya yaitu Jumlah kata yang mirip+Jumlah kata yang sama X 100
                                          Jumlah kata yang diteliti
            Teknik Glotokronologi adalah teknik pengelompokkan bahasa yang mengutamakan perhitungan bahasa berdasarkan dari usia atau lamanya suatu bahasa-bahasa yang sekerabat dengan menggunakan rumus logaritma. Tujuan metode adalah untuk menentukan usia bahasa yang terkait dengan defiriansi antara dua bahasa atau lebih. Adapun rumusnya yaitu t= log.c/ 2log.r
T= masa pisah, c= presentase kemiripan, r= presentase retensi, log= logaritma dari

               Metode kualitatif dalam LHK menggunakan teknik rekonstruksi. Metode Kualitatif dengan teknik rekonstruksi bertujuan untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan bahasa (dapat menemukan korespondensi antara bahasa-bahasa yang sekerabat). Rekonstruksi bahasa yang dilakukan secara internal untuk mencari prabahasa dari bahasa-bahasa yang sedialek. Rekonstruksi yang dilakukan secara external dilakukan setelah mendapat hasil dari penelitian kuantitatif leksikostatistik.
Metode perbandingan klasik tidak hanya bertalian dengan menemukan hukum bunyi antara bahasa-bahasa kerabat, atau dengan istilah kontemporer ‘menemukan korespondensi fonemis antar bahasa kerabat’, tetapi masih dilanjutkan dengan usaha mengadakan rekonstruksi (pemulihan) unsur-unsur purba, baik fonemis maupun morfemis. Rekonstruksi fonem dan morfem proto dimungkinkan karena para ahli menerima suatu asumsi bahwa jika diketahui fonem-fonem kerabat dari suatu fonem bahasa proto, maka sebenarnya fonem proto itu dapat ditelusuri kembali bentuk tuanya.
Dasar perbandingan bahasa
Tiap bahasa di dunia dapat diperbandingkan karena bahasa-bahasa tersebut memiliki ciri kesemestaan bahasa, yaitu:
  1. Kesamaan bentuk dan makna.
  2. Tiap bahasa memiliki perangkat unit fungsional terkecil, yaitu fonem dan morfem.
  3. Tiap bahasa memiliki kelas-kelas tertentu.
Faktor kemiripan bentuk dan makna yang terjadi dalam bahasa-bahasa dapat terjadi karena:
  1. Warisan langsung dari bahasa Proto
  2.  Pinjaman
  3. Kebetulan
Warisan langsung dari bahasa Proto Memiliki persamaan unsur kebahasaan yang meliputi kata-kata pokok, yaitu kata-kata yang dimiliki semua bahasa (cognate), Persamaan itu relatif logis dan konsisten, misalnya  dalam perubahan bunyi. Contoh bunyi [p] pada bahasa-bahasa di Eropa selatan dalam bahasa-bahasa di Eropa utara berupa bunyi [f].
Pinjaman, yang dimaksud pinjaman dalam faktor ini adalah Berupa kata-kata yang mengandung pengertian yang semula tidak dimiliki oleh bahasa peminjam. Berupa kata-kata yang mengandung nilai rasa tertentu; lebih sopan bila dinyatakan dengan kata pinjaman.
Kebetulan, yang dimaksud dengan faktor kebetulan yaitu Penutur yang bahasanya mengandung persamaan tidak pernah berhubungan, baik fisik maupun kultural. Jumlah unsur bahasa yang mengandung persamaan sangat sedikit.
Tujuan Linguistik Historis komparatif
Linguistik historis komparatif memiliki tujuan-tujuan tertentu demi memberikan keilmuan di bidang kebahasaan untuk pengguna bahasa dunia. Adapun tujuan-tujuan dari linguistik historis komparatif adalah:
4.      Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan membandingkan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang-bidang yang digunakan untuk membandingkannya adalah fonologi dan morfologi.
5.      Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada pada saat ini. Pada bahasa purba atau berusaha menunjukkan bahasa proto yang melahirkan bahasa modern.
6.      Mengadakan pengelompokkan bahasa yang termasuk bahasa serumpun.
7.      Menemukan penyebaran bahasa-bahasa proto dari bahasa kekerabatan, serta menunjukkan gerak inigrasi yang pernah terjadi dimasa lampau.
8.      Penentuan persentase kemiripan dan kesamaaan (kekerabatan) menggunakan leksikostatistik.
9.      Penentuan masa pisah dengan glotokronologi.

Contoh kajian Linguistik Historis Komparatif
Dalam makalah ini saya memberikan contoh kajian linguistik historis komparatif yaitu bahasa Sunda dengan bahasa Betawi. Bahasa betawi adalah bahasa yang digunakan oleh orang-orang suku Betawi di daerah Jakarta, namun saat ini penggunaan bahasa Betawi telah bercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa slank. Saat ini penggunaan bahasa Betawi hanya dapat ditemukan di daerah pinggiran Jakarta saja atau di daerah pelosok Jakarta. Banyak faktor mengapa bahasa Betawi sekarang telah mengalami banyak perubahan, yaitu banyaknya urbanisasi masyarakat dari seluruh Indonesia yang bekerja di Jakarta, bahasa Betawi dianggap bahasa kampung dan norak, Betawi yang dikenal dengan karakter orang-orangnya yang malas, kampungan, membuat masyarakat suku Betawinya enggan menggunakan bahasanya sendiri karena malu, Media elektronik adalah salah satu penyumbang terkikisnya bahasa daerah, ya lewat-lewat sinetron yang ditampilkan, iklan, serta karakter dalam sinetron tersebut yang digambarkan gaul dan memandang remeh orang yang menggunakan bahasa daerahnya. Maka dari itu, menurut saya bahasa Betawi saat ini sudah hampir punah.
Bahasa Sunda digunakan di seluruh Jawa Barat, bahasa sunda pun mengalami perbedaan antara satu daerah dengan daerah lain, contohnya bahasa Sunda Bandung berbeda dengan bahasa Sunda Banten terlihat dari dialeknya, beberapa kosa katanya dan lain-lain. bahasa Sunda memang masih sangat banyak digunakan oleh masyarakatnya, tetapi tidak dipungkiri faktor terkikisnya bahasa juga memiliki dampak yang sedikit mengganggu dalam bahasa sunda, seperti yang telah di sebutkan di atas, faktor pergaulan pun menambahakan faktor-faktor yang telah banyak di paparkan.
Pergaulan anak muda yang banyak menganut bahasa slank sangat menganggap remeh bahasa daerahnya, karena bagi mereka apabila mereka menggunakan bahasa daerah, mereka di katakan norak, kampungan dan tidak gaul. Jiwa-jiwa muda yang masih labil mengakibatkan banyaknya anak-anak muda ini beralih dari bahasa daerah ke bahasa slank.
Bahasa Sunda dan bahasa Betawi memiliki hubungan kekerabatan dalam bahasanya. Contoh kata Tuman.
Dalam bahasa Betawi: “ et dah lo tuman amat sih jadi orang, semaunye aje makanan orang lo pada cobain.” (kamu kebiasaan banget sih jadi orang, semuanya aja makanan orang kamu cicipi).
Dalam bahasa Sunda: “ ah urang mah moal ngebejakeun maneh, maneh mah tuman jelemana da susah urang atuh.” ( ah saya mah tidak mau memeberitahukan kamu, kamu mah kebiasaan orangnya ya susah atuh).
Selain itu ada kata-kata seperti belah: ngabeulah (bahasa Sunda), ngebelah (bahasa Betawi), asap : haseup (bahasa Sunda), asep (bahasa Betawi).
            Pada contoh kalimat diatas, kata Tuman memiliki kesamaan antara Bahasa Betawi dan bahasa Sunda, kesamaan katanya dan maknanya pula. Pada kata Asap dan Belah juga memiliki kesamaan makna tetapi sediki berbeda bentuk fonemnya.
            Hal ini menegaskan kalau bahasa Betawi dan bahasa Sunda memiliki kekerabatan ataupun serumpun. Hal tersebut memang tidak dipungkiri karena pada zaman dahulu Jakarta yang dahulu namanya adalah Sunda kelapa. Nah pada zaman dahulu, mungkin banyak orang-orang dari Sunda yang dipaksa untuk kerja di Jakarta pada zaman kompeni dan mereka berkomunikasi dalam bahasa Sunda, lalu lama kelaman mengalami perubahan dengan bahasa betawi banyak menyerap bahasa-bahasa dari zaman kompeni dan banyaknya urbanisasi seiring berjalannya zaman. Selain itu bahasa Betawi dengan bahasa Sunda dalam lingkup bahasa Austronesia jadi tidak menutup kemungkinan ada beberapa bahasanya yang memiliki kesamaan dalam kosa katanya, walaupun dalam bentuk morfemnya berbeda.




Daftar Pustaka
Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta. PT. Gramedia.
Suhardi. 2013. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rinneka Cipta.
www.bimbie.com (diakses: 2 April 2013 pukul 16.36 WIB)