saya dan Lulu adalah dua backapcker gila yang ingin keliling indonesia untuk melihat keindahan alamnya serta keunikan kebudayaanya, dengan perjalanan yang murah, menyenangkan dan kami membagikan lewat blog dan video. semua itu dapat ditemukan di YULUTRIP Indonesia. ikuti cerita seru kami terus ya dan jangan lupa mampir ke blog kami ya di sini.

Sunday, 5 May 2013

Journey to Baduy part 1


seorang Baduy Dalam

       Baduy adalah perjalanan kedua YULUTRIP, Saat itu tanggal 17 Januari 2013, hujan lebat di pagi hari tak sedikit pun membuat gentar niat kami untuk melakukan trip ini. Sekitar pukul 07:30 kami menuggu angkot yang mengantarkan kami ke stasitun Pondok Ranji (jakarta selatan). Kami berangkat berempat ke Baduy, anggotanya yaitu YULUTRIP (Yuwi dan Lulu), Siska dari Kuningan dan Netra dari Yogyakarta.
Siska, yuwi, Lulu, Netra
         Ternyata hujan lebat ini menyebabkan lumpuhnya rel kereta api, tidak adanya kereta yang berangkat menuju Rangkasbitung, banjir di seluruh kota Jakarta (ingat kejadian banjir besar-besaran seantero jakarta) serta terjebaknya Netra dijalan menyebabkan kami harus menunda perjalanan. Tiba-tiba sesorang menghampiri kami, setelah memperkenalkan diri, orang itu bernama Adri, seorang tukang sapu di stasiun sana. Dia memberitahukan bahwa ada kereta ekstra yang akan berangkat ke Rangkas jam 1 siang. Akhirnya kami pun baru bisa jalan jam 1 siang, kami membeli tiket kereta ke Rangkasbitung untuk 4 orang, harga 1 tiketnya Rp.1500.
Ini adalah kereta ekonomi yang akan kami naiki
suasana dalam kereta
Asiiikkk akhirnya kami naik kereta juga walaupun harus berdesak-desakan, dalam cuaca hujan serta kereta yang bocor. Akhirnya kami duduk dibawah, menjadi penghalang orang lalu-lalang, mata-mata copet selalu mengawasi kami, pedagang-pedagang yang berteriak meneriakan barang dagangannya, orang yang meminta-minta berseliweran, kereta yang kotor akan sampah oleh orang-orang yang dengan enaknya membuang sampah di dalam kereta serta bau yang bermacam-macam menusuk hidung menjadi warna dalam perjalanan kami. Kira kira 2 jam perjalanan yang harus kami tempuh itupun apabila tepat waktu.
angkot yang akan kami naiki
Sesampainya di Rangkasbitung, sekitar jam 15:30 kami istirahat sambil makan di warteg dekat pasar. Setelah makan kami ditawarkan angkot menuju desa Ciboleger, desa terakhir sebelum kami memasuki perkampungan Baduy. Tarif angkot Rp.15000, dan lama perjalanan yang kami tempuh sekitar 2-3 jam.  Sebenarnya untuk mencapai ke desa Ciboleger kita dapat menggunakan elf, tetapi karena hari sudah sore, jadi yang masih tersedia ya cuma angkot aja. Di sela-sela perjalanan,  diangkot kami ditawari madu asli oleh seorang penjual asal Cijahe, merasa tertarik mencicipi madu asli hutan Banten, kami pun membeli madu itu seharga 50rb per satu botol nya.

Tugu Desa Ciboleger
alfamart Desa Ciboleger
      Sesampainya di desa Ciboleger, sekitar jam 18:00 kami harus menemui pak Agus Bule, seorang guide yang sudah kami contac sebelumnya, dan kami juga tetap membutuhkan seorang Baduy Dalam untuk menjadi guide kami selama di Baduy. Oh iya, sedikit info, ternyata di desa Ciboleger ini terdapat Alfamart! Waw, pemandangan yang cukup unik... Setelah mewawancarai guide Baduy Dalam kami yang bernama Pak Idong dan anaknya Pulung kami pun memulai perjalanan menuju Baduy, saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 18:30. Saat memasuki perkampungan Baduy luar, kami terlebih dahulu melapor serta mengisi buku tamu kepada Jaro Pemerintahan (seseorang yang bertanggung jawab untuk menghubungkan masyarakat baduy dengan pemerintah)  dan membayar seikhlasnya (administrasi mungkin).
Guide kami Baduy Dalam, Pak Idong dan Pulung
Setelah itu kami mempersiapkan kembali perlengkapan untuk menunjang perjalanan kami, salah satu hal yang penting disiapkan untuk ke desa Baduy (baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam) adalah senter, karena perkampungan Baduy tersebut tidak menggunakan listrik. Hal lainnya adalah sepatu kets, karena kontur jalan menuju baduy masih tanah dan apabila hari hujan (setelahnya) jalanan menjadi sangat licin dan berlumpur. Kami memutuskan menginap di desa Gajeboh, yaitu desa ketiga di Baduy luar. Untuk menempuh perjalanan kira-kira 3 km, kami membutuhkan waktu 2 jam perjalanan. Trek perjalanan yang naik turun, licin,  dan gelap pastinya membuat kami jatuh, maka ada pepatah yang mengatakan “belum ke Baduy jika tidak jatuh selama perjalanan ke Baduy”.
 
Untuk tau cerita selanjutnya, simak di post Baduy selanjutnya ya.... :D